Joomla Gratis Templates by Best Web Host

Teknologi Baru Jembatan Komposit

Berapa besar beban yang bisa ditahan oleh sebuat jembatan dari kayu balsa? Ketika balsa wood dibungkus oleh lapisan FRP (fiber reinforced resin), maka beban yang mampu ditahan oleh jembatan kayu balsa adalah diluar yang Anda perkirakan,

tutur seorang insinyur dari EPFL (Ecole Polytechnique Federale de Leusanne) . Pada 12 Oktober 2012, sebuah komposit dek jembatan dengan core kayu balsa menggantikan jembatan beton yang sudah berumur 100 tahun di Bex, Switzerland. Jembatan yang baru, satu jalur lebih lebar dari jembatan lama dan dirancang untuk bertahan satu abad, ternyata sudah bisa digunakan beberapa hari kemudian setelah ditutup dengan lapisan aspal.  

balsabridges

Penggantian dek  beton pada jembatan dengan dek komposit mempunyai beberapa keuntungan. “Selain lebih ringan, juga anti korosi sebagai penyebab utama kerusakan konstruksi beton” Thomas Keller dari Composite Construction Lab di EPFL. Prefabrikasi dilakukan di pabrik untuk meningkatkan kualitas, keamanan, dan daya tahan. Selain itu juga mempercepat instalasi di lokasi nantinya.

Core/inti dari dek komposit adalah balsa wood yang diberi merk Banova dikembangkan oleh perusahaan 3A Composites. “Kita mungkin belum mempunyai 100 tahun pengalaman dengan produk ini, tetapi 50 tahun pekerjaan di konstruksi maritim dan percepatan tes penuaan, kami yakin bahwa struktur ini mempunyai kemampuan sebaik jembatan beton,” ujar Sebastien Lavanchy dari 3A Composites.

 Penelitian Laborat menunjukkan peningkatan daya tahan dari elemen composite. “Di 3A Composites, kami pertama kali membangun dek jembatan komposit dengan teknik yang sama di Louisiana, USA pada tahun 2009, tetapi menggunakan composite webs di dalam struktur,” ujar Lavanchy. Karena composite web (jarring composite) dapat menurunkan umur dek dalam waktu lama, maka jembatan di Bex didisain untuk memenuhi persyaratan teknis dengan tanpa menggunakan composite web.  

 

Membangun Jembatan dalam sehari

Di Bex, dek jembatan dipasang hanya dalam sehari. Pembongakaran dan penggantian biasanya membutuhkan waktu beberapa bulan, tetapi bisa menjadi beberapa minggu saja. Prefabrikasi material ringan menjadikannya bisa lebih cepat dalam pengerjaan konstruksi. Dek jembatan seluas 40m2 dengan tebal hanya 30cm dengan tiga elemen komposit, dibuat oleh 3A Composites di Altenrhein, Switzerland, sebelum dikirim dengan truk ke lokasi. Pekerjaan assembling di lokasi jembatan memakan waktu 5 hari sebelum instalasi.

Teknologi komposit mempunyai potensi untuk bisa digunakan di berbagai aplikasi bidang.

Ketika dikritik bahwa teknologi ini cukup mahal, Thomas Keller berkata jika dibandingkan umur jembatan, maka sebanding dengan biayanya. “Total biaya instalasi sangat kompetitif dan selain itu jembatan composit tidak korosi, sehingga meningkatkan durabilitas dan menurunkan biaya pemeliharaan”.

Pada Jembatan Bex akan dilakukan uji kelayakan untuk konstruksinya, dan kesesuaiannya untuk diterapkan di lokasi lain. Ketika jembatan beton mendominasi landscape, teknologi ini mengembalikan “jembatan kayu” pada kehidupan meskipun tersembunyi dibalik kulit/lapisan modern.   

Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia teknologi ini belum ada karena belum familiarnya kayu balsa sebagai core bagi para insinyur. Mereka lebih memilih foam sebagai core composite, padahal dari sisi lingkungan, foam merupakan bahan yang paling sulit terdegradasi. Semoga dengan informasi ini lebih banyak peneliti dan insinyur Indonesia mengenal aplikasi composite dengan balsa core.

Sumber : phys.org
FacebookTwitter